JAMBI - Tradisi adat Kenduri Sko/Manggien Ninik Mamak Luhah Depati Intan Siulak Mukai kembali digelar dengan khidmat dan meriah di Lapangan Bola Kaki Desa Tebing Tinggi, Kecamatan Siulak Mukai, Kabupaten Kerinci, Sabtu (24/1/2026).
Bagi masyarakat Kerinci, Kenduri Sko bukan sekadar perayaan adat. Tradisi ini merupakan salah satu warisan budaya leluhur yang memiliki makna mendalam dalam kehidupan masyarakat adat.
Di dalamnya terkandung nilai penghormatan kepada nenek moyang, pengukuhan peran pemangku adat, penguatan hubungan kekerabatan, serta penegasan kembali jati diri masyarakat Kerinci sebagai masyarakat yang beradat dan bermartabat.
Kenduri Sko menjadi ruang bersama bagi anak jantan dan anak batino, para Depati, Ninik Mamak, Anak Batin, tokoh adat, serta masyarakat untuk berkumpul dalam satu ikatan adat. Tradisi ini juga menjadi simbol bahwa adat tidak hanya hidup dalam cerita, tetapi terus dijaga melalui prosesi, petuah, musyawarah, dan kebersamaan.
Baca juga: Raditya Pratama, Siswa MTsN 2 Kota Jambi Raih Juara 1 Lomba Kisah Islami FASI XXIV
Rangkaian prosesi adat diawali dengan berkumpulnya para Depati dan Ninik Mamak di Rumah Gedang Depati Intan. Rumah Gedang dalam tradisi masyarakat adat memiliki kedudukan penting sebagai pusat musyawarah, tempat berhimpunnya para pemangku adat, sekaligus simbol keberlanjutan garis adat yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Dari Rumah Gedang, para pemangku adat kemudian bergerak menuju lokasi utama kegiatan di Lapangan Bola Kaki Desa Tebing Tinggi. Prosesi ini menjadi bagian penting dalam Kenduri Sko, karena menggambarkan keteraturan adat, penghormatan terhadap pemimpin adat, serta kebersamaan masyarakat dalam menjaga pusaka budaya.
Setibanya di lokasi acara, prosesi penyambutan dilakukan melalui Tari Persembahan, Tari Sekapur Sirih, dan atraksi Pencak Silat. Ketiga unsur ini bukan hanya hiburan, tetapi memiliki makna adat yang kuat.
Tari Persembahan dan Sekapur Sirih menjadi simbol penghormatan kepada tamu dan para pemangku adat, sementara Pencak Silat mencerminkan keberanian, kehormatan, serta kesiapan masyarakat dalam menjaga marwah negeri.
Baca juga: Dukung Pembinaan Olahraga, Wakapolda Jambi Resmi Buka Turnamen Catur Piala Kapolda 2026
Kenduri Sko juga menjadi momentum penting untuk menghidupkan kembali petuah adat yang diwariskan secara turun-temurun. Melalui sambutan adat, Parno Adat, dan musyawarah bersama, masyarakat diingatkan kembali tentang nilai-nilai luhur seperti gotong royong, sopan santun, saling menghormati, serta hidup rukun dalam tatanan adat.
Dalam tradisi Kerinci, adat memiliki posisi yang sangat dekat dengan kehidupan sosial masyarakat. Ungkapan “adat bersendi syara’, syara’ bersendi Kitabullah” menjadi pedoman bahwa adat dan agama berjalan beriringan sebagai dasar dalam membangun kehidupan yang beradab. Adat tidak hanya mengatur hubungan antarindividu, tetapi juga menjadi penjaga keseimbangan sosial di tengah masyarakat.
Melalui Kenduri Sko, masyarakat Luhah Depati Intan Siulak Mukai meneguhkan kembali pentingnya menjaga adat sebagai identitas bersama. Tradisi ini memperlihatkan bahwa budaya lokal memiliki kekuatan besar dalam menyatukan masyarakat, menyelesaikan persoalan melalui musyawarah, serta menjaga keharmonisan antargenerasi.
Selain prosesi adat, kegiatan ini juga diisi dengan kenduri bersama dan hiburan rakyat. Momen makan bersama menjadi simbol kebersamaan dan rasa syukur masyarakat. Di sinilah nilai kekeluargaan terasa kuat, karena seluruh unsur masyarakat hadir bukan hanya sebagai penonton, tetapi sebagai bagian dari tradisi itu sendiri.
Baca juga: Hadiri Grand Opening Yonex Sport Center, Kapolda Jambi Ajak Masyarakat Tingkatkan Gemar Berolahraga
Kehadiran para tokoh adat, tokoh masyarakat, pemerintah daerah, dan masyarakat luas dalam Kenduri Sko Luhah Depati Intan Siulak Mukai menjadi bukti bahwa tradisi ini masih memiliki tempat penting dalam kehidupan masyarakat Kerinci.
Lebih dari sekadar acara adat tahunan, Kenduri Sko adalah cara masyarakat Kerinci merawat ingatan kolektif, menjaga hubungan dengan leluhur, memperkuat persaudaraan, dan memastikan nilai-nilai adat tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Tradisi Kenduri Sko Luhah Depati Intan Siulak Mukai menjadi penanda bahwa Kerinci bukan hanya kaya akan alam dan sejarah, tetapi juga memiliki warisan budaya yang kuat, sakral, dan penuh makna.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Kerincisatu.kerincikab.go.id