Sabtu, 26 JULI 2025 • 17:39 WIB

Kemarau Panjang, Sejumlah Sawah di Batanghari Mulai Alami Kekeringan dan Terancam Gagal Panen

Author

Kemarau Panjang, Sejumlah Sawah di Batanghari Mulai Alami Kekeringan dan Terancam Gagal Panen (Dok. Istimewa)

JAMBI - Dampak musim kemarau mulai dirasakan para petani di Kabupaten Batanghari, Jambi. Sudah hampir tiga minggu wilayah ini tidak diguyur hujan, membuat sejumlah lahan persawahan mulai mengering dan mengancam gagal panen.

Di Desa Pasar Terusan, Kecamatan Muara Bulian, para petani mulai mengeluhkan kekeringan yang melanda lahan pertanian mereka. Sejumlah titik sawah yang biasanya teraliri air dari anak sungai sekitar, kini mulai retak dan tak bisa lagi digarap secara maksimal.

Baca juga: Musim Kemarau, Puluhan Indukan Ikan Nila Mati di Balai Benih Sungai Alai Tebo

"Air dari anak sungai di sini sudah mulai kering. Jadi air untuk sawah pun tidak cukup lagi. Beberapa lahan bahkan sudah tidak bisa ditanami," kata Atiq H, salah satu petani asal Desa Pasar Terusan (26/07/2025).

Atiq mengungkapkan, kekeringan ini baru terasa dalam dua minggu terakhir, dan semakin parah seiring tidak turunnya hujan. Ia menyebut, musim tanam tahun ini terancam gagal jika tak ada solusi cepat dari pemerintah.

"Kami berharap ada bantuan dari pemerintah. Misalnya bangun parit atau saluran air yang bisa langsung dari Sungai Batanghari ke sawah. Karena jaraknya sebenarnya tidak terlalu jauh," tambahnya.

Baca juga: Gubernur Al Haris Pastikan Bantuan Helikopter dari BNPB Datang Besok untuk Atasi Karhutla di Jambi

Kondisi ini memaksa para petani mengurangi luas lahan yang ditanami padi. Sebagian petani bahkan memilih untuk tidak menanam sama sekali, karena khawatir bibit tidak akan tumbuh maksimal tanpa pasokan air yang cukup.

Fenomena kekeringan yang melanda wilayah Batanghari ini merupakan bagian dari dampak musim kemarau panjang yang juga dirasakan di sebagian besar wilayah Provinsi Jambi. 

Baca juga: Polres Tanjab Barat Selidiki Kebakaran 20 Hektare Lahan Semi Gambut di Betara

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya sudah memperkirakan bahwa puncak musim kemarau tahun ini terjadi pada Juli hingga Agustus, dengan curah hujan yang sangat minim.

Sementara itu, Dinas Pertanian setempat diminta segera melakukan langkah mitigasi, seperti pendistribusian pompa air, pembangunan irigasi darurat, serta edukasi kepada petani terkait teknik pengelolaan air saat musim kemarau.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan

Author

Rudiansyah

ZCreators
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU