Musim Kemarau, Puluhan Indukan Ikan Nila Mati di Balai Benih Sungai Alai Tebo (Dok. Istimewa)
JAMBI - Musim kemarau panjang yang tengah melanda sebagian besar wilayah di Provinsi Jambi. Tak hanya berdampak pada sektor pertanian dan ketersediaan air bersih, namun juga mulai dirasakan di sektor perikanan, di Desa Sungai Alai, Kecamatan Tebo Tengah, Kabupaten Tebo, Jambi.
Para peternak ikan kini tengah dilanda keresahan menyusul banyaknya indukan ikan nila yang mati di Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Balai Benih Ikan setempat.
Puluhan ekor indukan ikan nila jenis JICA mati dalam dua bulan terakhir akibat buruknya kualitas air kolam. Pasokan air yang bersumber dari sungai mulai menurun secara signifikan, menyebabkan kadar oksigen dalam kolam menurun drastis dan suhu air meningkat tajam.
Baca juga: Gubernur Al Haris Pastikan Bantuan Helikopter dari BNPB Datang Besok untuk Atasi Karhutla di Jambi
"Masalah utama yang kami hadapi sekarang adalah turunnya debit air sungai. Akibatnya, kolam jadi dangkal, suhu naik, dan oksigen berkurang. Itu sangat memengaruhi kesehatan indukan ikan nila kami, terutama jenis JICA yang cukup sensitif terhadap perubahan suhu," ujar Ahmad Zulfahmi, Kepala Bidang Perikanan Dinas Perikanan Kabupaten Tebo, Sabtu (26/07/2025).
Zulfahmi menuturkan, sejak awal Juni hingga akhir Juli ini, jumlah indukan yang mati terus bertambah. Meski sudah dilakukan berbagai langkah pencegahan seperti pergantian air manual dan aerasi darurat, kematian tetap terjadi karena cuaca ekstrem yang berkepanjangan.
"Kondisi ini menyebabkan kerugian besar. Indukan itu adalah aset utama balai benih. Jika banyak yang mati, maka produksi benih ke depan juga terganggu. Ini belum lagi dampaknya ke para peternak yang bergantung pada pasokan benih dari sini," tambahnya.
Baca juga: Kampus UIN STS Jambi Telanai Terbakar, Warga Sekitar Panik Asap Tebal Membumbung Tinggi
Musim kemarau juga berdampak pada permintaan benih ikan dari masyarakat. Banyak kolam milik petani yang mulai mengering atau debit airnya tak mencukupi untuk pemeliharaan ikan.
Kondisi tersebut memaksa petani menunda siklus tanam ikan mereka, yang pada akhirnya berdampak langsung pada penjualan benih dari balai.
"Biasanya setiap minggu kami bisa distribusikan benih ke beberapa kelompok tani ikan di Tebo dan sekitarnya. Tapi sekarang banyak yang menunda karena kolamnya kering. Akibatnya, penjualan benih turun drastis," jelas Zulfahmi.
Baca juga: Harga Cabai di Pasar Angso Duo Jambi Turun Drastis, Bawang Merah Justru Naik Tajam
Bukan hanya penjualan benih, hasil panen ikan konsumsi juga diprediksi menurun. Beberapa peternak yang sudah terlanjur menebar benih di awal musim kemarau kini kesulitan menjaga kualitas air, yang berdampak pada pertumbuhan ikan dan potensi kematian massal.
Menghadapi situasi ini, pihak Dinas Perikanan Kabupaten Tebo terus melakukan berbagai upaya. Di antaranya dengan memperbaiki sistem aliran air antar kolam, membangun tandon air darurat, hingga memantau kadar oksigen secara rutin setiap pagi dan sore hari.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan