Senin, 10 NOVEMBER 2025 • 12:06 WIB

Inflasi Jambi Oktober 2025 Tembus 3,71 Persen, Kerinci Tertinggi di Provinsi

Author

Inflasi Jambi Oktober 2025 Tembus 3,71 Persen, Kerinci Tertinggi di Provinsi (Dok. Istimewah)

JAMBI – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jambi mencatat inflasi tahunan (year on year) pada Oktober 2025 mencapai 3,71%. Angka ini naik dibandingkan periode yang sama tahun lalu, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) berada di level 109,77.

Kepala BPS Provinsi Jambi, Agus Sudibyo mengatakan bahwa meski inflasi tahunan mengalami kenaikan, secara bulanan (month to month) Provinsi Jambi justru mencatat deflasi sebesar 0,03 persen.

“Sementara inflasi sejak awal tahun atau year to date tercatat sebesar 3,02 persen,” ujar Agus, Senin (10/11/2025).

Baca juga: Penertiban PKL Pasar Talang Banjar Belum Efektif

Dari tiga daerah pemantauan di Jambi, Kabupaten Kerinci menjadi wilayah dengan inflasi tertinggi, yakni 6,70 persen dengan IHK 113,49. Sementara itu, Kota Jambi mencatat inflasi terendah sebesar 2,68 persen dengan IHK 108,53.

Agus menjelaskan bahwa kelompok makanan, minuman, dan tembakau masih menjadi penyumbang utama inflasi, dengan kenaikan harga mencapai 7,68 persen. Disusul oleh kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 8,51 persen, restoran dan penyediaan makanan sebesar 3,02 persen, serta pendidikan sebesar 2,20 persen.

Baca juga: Tanggapi Pelaporannya ke Polda Soal Dugaan Penipuannya, Direktur Utama PT Uli Laporkan Kembali M Arzak Rahmadi ke Polres Jambi

Beberapa komoditas yang paling berpengaruh terhadap kenaikan inflasi antara lain cabai merah, beras, bawang merah, daging ayam ras, minyak goreng, dan emas perhiasan, serta sewa rumah dan rokok. Sebaliknya, penurunan harga terjadi pada kelompok perlengkapan rumah tangga, kesehatan, serta informasi dan komunikasi.

Secara antarwilayah, inflasi bulanan pada Oktober 2025 tercatat di Muara Bungo sebesar 0,40 persen dan Kerinci sebesar 0,39 persen, sedangkan Kota Jambi justru mengalami deflasi 0,22 persen. Perbedaan ini, menurut BPS, disebabkan oleh variasi pasokan bahan pangan dan aktivitas perdagangan di tiap daerah.

Baca juga: 25 Persen Kasus Curanmor di Kota Baru Disebabkan Kelalaian Pemilik Kendaraan

Agus menambahkan, menjelang akhir tahun tekanan harga masih didominasi oleh komoditas pangan. Oleh karena itu, penguatan koordinasi antarinstansi perlu terus dilakukan. 

“Pemerintah daerah bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) diharapkan memperkuat pengendalian harga dengan menjaga stabilitas pasokan dan distribusi barang,” jelasnya.

Dengan inflasi yang mulai meningkat menjelang akhir tahun, BPS mengingatkan pentingnya sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat dalam menjaga keseimbangan harga. Upaya menjaga pasokan pangan dan efisiensi distribusi diharapkan mampu menekan lonjakan harga menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan

Author

Rudiansyah

ZCreators
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU