JAMBI – Meski program penyaluran beras SPHP dari Bulog terus digencarkan di wilayah Kabupaten Tanjung Jabung Barat, namun di tingkat pedagang dan RPK (Rumah Pangan Kita), beras tersebut justru kurang diminati masyarakat. Penyebabnya, banyak konsumen menilai kualitas nasi dari beras SPHP saat ini terlalu pulen atau lembut, tidak seperti beras jenis pera yang lebih disukai.
Beras SPHP saat ini dapat dijumpai di berbagai toko retail dan pedagang beras di Kuala Tungkal. Namun demikian, antusiasme masyarakat untuk membeli beras ini tampak menurun dalam beberapa bulan terakhir. Sejumlah pedagang mengeluhkan stok menumpuk karena beras tak kunjung habis terjual.
Baca juga: Motor Matik Terbakar Hebat di Kawasan WFC Kuala Tungkal, Warga Heboh
Salah satu pedagang beras SPHP, Ahmadi, mengungkapkan bahwa penjualan beras SPHP di tokonya kini jauh lebih lambat dibandingkan sebelumnya. Menurutnya, bukan karena harga atau kualitas jelek, melainkan karena karakteristik nasi dari beras SPHP kini cenderung pulen, yang tidak sesuai dengan selera mayoritas pelanggan.
“Beras SPHP sekarang kalau dimasak jadi nasi itu pulen. Padahal, kebanyakan pelanggan lebih suka yang pera. Jadi mereka bilang, ‘nasi-nya lembek’, dan akhirnya gak beli lagi,” ujar Ahmadi, Senin (25/08/2025).
Baca juga: Keluhan Warga Ditanggapi, PLN Mulai Pasang Tiang Listrik di Bungkal
Ia menambahkan, biasanya satu ton beras SPHP bisa habis dalam waktu sekitar 10 hari. Namun kini, untuk menghabiskan jumlah yang sama, ia memerlukan waktu hingga satu bulan lebih. Hal ini tentu berdampak pada perputaran modal usahanya.
“Sekarang 1 ton bisa satu bulan lebih baru habis. Dulu 10 hari saja sudah habis. Jelas sekali bedanya,” sambungnya.
Senada dengan itu, pedagang lainnya, Musdalifah, bahkan memilih untuk tidak lagi menjual beras SPHP. Menurutnya, men-stok beras SPHP saat ini justru bisa menyebabkan kerugian, karena minimnya permintaan dan lambatnya penjualan.
Baca juga: Keluhan Warga Ditanggapi, PLN Mulai Pasang Tiang Listrik di Bungkal
“Saya sekarang sudah tidak jual beras SPHP lagi. Kalau tetap disimpan tapi nggak laku, malah rugi. Lebih baik saya jual beras premium seperti Kayu Manis, Udang Ketak, dan Boom. Itu yang pelanggan cari,” jelas Musdalifah.
Ia menilai, meskipun harga beras SPHP relatif lebih murah, namun selera pasar tetap menjadi faktor utama yang menentukan laku tidaknya suatu produk. Ia berharap Bulog bisa mempertimbangkan kembali jenis atau kualitas beras yang disalurkan ke masyarakat agar lebih sesuai dengan preferensi konsumen lokal.
Dengan kondisi ini, banyak pedagang berharap ada penyesuaian dari pemerintah dan Bulog terkait jenis beras SPHP yang dipasarkan, agar tujuan program stabilisasi harga dan pasokan pangan bisa tercapai secara efektif.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan