JAMBI - Pemerintah Kota Jambi kini tengah mematangkan rencana besar dalam menata kawasan rawan banjir sekaligus mengembangkan potensi pariwisata berbasis air.
Fokus utama program tersebut adalah pembebasan lahan seluas 9 hektar di kawasan Lingga Permai, yang akan digunakan untuk proyek normalisasi sungai.
Langkah ini merupakan bagian dari upaya jangka panjang Pemkot Jambi dalam mengatasi banjir musiman yang selama ini kerap mengganggu aktivitas warga, terutama saat musim hujan.
Baca juga: Pelaksanaan MPLS 2025 di Kota Jambi Ditekankan Harus Edukatif dan Bebas dari Kekerasan
Wali Kota Jambi, Maulana mengatakan bahwa saat ini pihaknya tengah menyusun tim pelaksana pembebasan lahan sekaligus menyiapkan segala administrasi pendukung.
"Luas lahan yang akan dibebaskan kurang lebih 9 hektar. Anggarannya sudah disiapkan dari tiga sumber. Dari APBN sebanyak Rp45 miliar, dari Pemprov Jambi Rp25 miliar, dan dari Pemkot Rp5 miliar," jelas Maulana, Rabu, (23/7/2025).
Maulana juga menekankan bahwa proyek ini memiliki dua fungsi utama. Selain sebagai sarana penanggulangan banjir, lokasi tersebut akan diarahkan menjadi pusat wisata air baru di Kota Jambi. Konsep ini diharapkan mampu memperkuat sektor pariwisata sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat sekitar.
Baca juga: Dapat Bantuan Chromebook, Sekolah di Jambi Terkendala Koneksi dan Kapasitas
"Pekerjaan ini memiliki fungsi ganda. Pertama tentu untuk normalisasi sungai dan penanganan banjir. Tapi ke depan, kawasan ini akan kita desain juga menjadi wisata air, yang dapat dinikmati masyarakat," tambahnya.
Target Pemkot Jambi adalah menyelesaikan seluruh proses pembebasan lahan sebelum Desember 2025, sehingga pengerjaan fisik drainase dan infrastruktur penunjang lainnya bisa segera dimulai pada awal 2026.
Maulana optimistis, dengan dukungan penuh dari pemerintah pusat dan provinsi, proyek ini bisa berjalan sesuai rencana dan menjadi model pembangunan terpadu di wilayah perkotaan.
Tak hanya sebagai proyek infrastruktur, normalisasi sungai ini juga menyangkut aspek lingkungan dan keberlanjutan. Dengan pengelolaan drainase yang lebih baik dan aliran sungai yang tertata, risiko genangan air di musim hujan akan jauh berkurang, sekaligus mengurangi beban sistem drainase kota secara keseluruhan.
Maulana juga mengimbau agar masyarakat, terutama yang memiliki lahan di wilayah Lingga Permai, dapat mendukung proses pembebasan lahan dengan pendekatan yang konstruktif.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan