Rabu, 15 JULI 2026 • 23:03 WIB

Mengenal Tradisi Unik Peringatan 17 Agustus yang Hanya Ada di Wilayah Jambi

Author

Gambaran perayaan 17 Agustusan (pinterest)

JAMBI - Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia setiap tanggal 17 Agustus selalu identik dengan pengibaran bendera merah putih, lagu kebangsaan yang berkumandang, dan berbagai lomba khas seperti balap karung maupun makan kerupuk. Namun, jika Anda berkunjung ke Provinsi Jambi pada pertengahan Agustus, Anda akan disuguhi dengan kemeriahan yang jauh berbeda dan tidak bisa ditemukan di daerah lain.

Baca juga: Remaja 17 Tahun Asal Pekanbaru Berangkat Haji, Kisahnya Bikin Haru

Bumi Sepucuk Jambi Sembilan Lurah ini memiliki cara tersendiri untuk mengekspresikan rasa nasionalisme. Mulai dari riuhnya riak sungai hingga sampai kesunyian puncak gunung tertinggi, berikut adalah deretan tradisi unik peringatan 17 Agustus yang hanya ada di wilayah Jambi!

1. Gemuruh Lomba Pacu Perahu Tradisional di Sungai Batanghari

Bagi masyarakat Kota Jambi, jantung perayaan 17 Agustus berada di sepanjang aliran Sungai Batanghari merupakan sungai terpanjang di Sumatra. Setiap tahunnya, ribuan pasang mata akan memadati area Gentala Arasy untuk menyaksikan Lomba Pacu Perahu Tradisional.

Berbeda dengan lomba dayung modern, perahu yang digunakan di sini yaitu perahu tradisional berukuran panjang (perahu nako) yang dihias dengan cat warna-warni yang mencolok. Satu perahu ini bisa ditarik dengan puluhan pendayung yang bergerak dalam satu irama yang presisi. 

Air merupakan urat nadi kehidupan masyarakat Jambi sejak zaman kerajaan. Tradisi ini bukan hanya sekadar adu cepat, melainkan simbol penghormatan terhadap sejarah transportasi air Jambi sekaligus memupuk untuk kekompakan dan gotong royong.

2. Basah Kuyup di Lomba Panjat Pinang di Atas Sungai

Panjat pinang di tanah lapang mungkin sudah biasa, tetapi masyarakat di daerah pedalaman Jambi dan Muaro Jambi punya cara yang jauh lebih menantang sekaligus mengundang gelak tawa yaitu Panjat pinang di atas sungai.

Batang pohon pinang yang sudah dilumuri pelumas tidak ditancapkan tegak lurus di tanah, melainkan dipasang dengan miring atau horizontal menjorok ke arah sungai. Jika peserta kehilangan keseimbangan atau terpeleset, mereka tidak akan jatuh ke tanah keras yang berisiko cedera, melainkan langsung mencebur ke dalam air sungai yang segar. Keseruan ini selalu sukses untuk memancing tawa riuh para penonton yang menyaksikannya dari tepian.

3. Upacara Khidmat di Atas Awan: Puncak Gunung Kerinci

Beralih ke wilayah barat Jambi, tepatnya di Kabupaten Kerinci, para pencinta alam dan pemuda setempat untuk merayakan kemerdekaan dengan cara yang menguras fisik namun sangat berkesan. Mereka melakukan pendakian massal untuk menggelar upacara bendera di Puncak Indrapura (3.805 mdpl).

Di tengah suhu dingin yang menusuk tulang dan hamparan awan yang membentang luas, ratusan pendaki berdiri tegap untuk memberi hormat kepada Sang Saka Merah Putih yang berkibar di puncak gunung berapi tertinggi di Indonesia ini. Perjuangan mendaki medan yang terjal selama berjam-jam menjadi refleksi mendalam akan beratnya perjuangan para pahlawan untuk merebut kemerdekaan Indonesia.

4. Kehangatan Pawai Budaya Bersama Suku Anak Dalam (SAD)

Di beberapa wilayah seperti Merangin dan Sarolangun, perayaan HUT RI sudah menjadi momen indah yang menunjukkan inklusivitas luar biasa  dengan melalui keterlibatan saudara-saudara kita dari Suku Anak Dalam (SAD) atau Orang Rimba.

Dalam beberapa tahun terakhir, kelompok SAD aktif turun ke pusat-pusat kecamatan untuk memeriahkan hari kemerdekaan. Mereka mengenakan pakaian adat khas, membawa hasil bumi, dan ikut berbaris dalam pawai budaya bersama dengan masyarakat umum.

Kehadiran mereka untuk mengirimkan pesan kuat ke seluruh penjuru negeri bahwa kemerdekaan Indonesia merupakan milik seluruh tumpah darah, tanpa memandang perbedaan latar belakang sosial maupun geografis.

Baca juga:  Upacara Tanggal 17 Jadi Hari yang Penting Bagi Kepolisian dan ASN

Ragam tradisi agustusan di Jambi ini telah membuktikan bahwa nasionalisme tidak melulu harus kaku. Lewat sungai, gunung, dan adat istiadat, masyarakat Jambi berhasil merawat ingatan sejarah sembari untuk  mempererat tali silaturahmi antargenerasi.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Berbagai Sumber

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU