JAMBI - Bagi masyarakat Jambi, pekik kemerdekaan itu bukan hanya sekadar slogan hiasan di dinding kelas. Lebih dari satu abad lalu, di sepanjang lekukan Sungai Batanghari yang tenang, pekik itu bergema lewat desing peluru dan kilatan senjata para pejuang yang menolak tunduk pada cengkeraman kolonial Belanda. Di barisan paling depan, berdiri kokoh seorang panglima perang legendaris yang dijuluki "Singo Depo" yaitu Raden Mattaher.
Baca juga: Mengenal Monumen Perjuangan Ikonik di Bali, Warisan Sejarah yang Masih Terawat
Menggali kembali lembar sejarah Raden Mattaher bukan hanya sekadar ritual musiman menjelang Hari Kemerdekaan. Ini merupakan upaya dalam merawat ingatan kolektif kita tentang harga mahal sebuah kedaulatan di tanah Jambi.
Lahir pada tahun 1871, Raden Mattaher bukanlah pemuda biasa. Beliau merupakan cucu dari Sultan Fakhruddin dan kemenakan dari pahlawan nasional Sultan Thaha Syaifuddin. Dengan silsilah bangsawan setebal itu, ia sejatinya juga bisa memilih hidup nyaman di bawah kompromi politik kolonial. Namun, darah biru yang mengalir di tubuhnya adalah darah perlawanan.
Ketika Belanda berusaha untuk memaksakan kekuasaannya dan mempersempit ruang gerak Kesultanan Jambi, Raden Mattaher dengan tegas untuk memilih angkat senjata. Bersama pamannya, Sultan Thaha, ia memimpin barisan gerilya di pedalaman Jambi.
Julukan "Singo Depo" (Singa Mimbar/Panggung) yang disematkan bukan tanpa alasan. Di medan laga, ia bagaikan singa yang tak kenal takut, cerdik, dan selalu berhasil mengacaukan konsentrasi militer Belanda lewat taktik tabrak-lari (hit and run) yang legendaris.
Sejarah mencatat, salah satu aksi heroik Raden Mattaher yang paling mengguncang militer Belanda terjadi di daerah perairan Batanghari. Ia dan pasukannya sering kali menyergap kapal-kapal uap Belanda yang membawa logistik dan persenjataan militer.
Taktik perang gerilya Raden Mattaher bertumpu pada penguasaan medan yang luar biasa:
- Memanfaatkan lebatnya hutan pedalaman Jambi sebagai benteng alam yang tak tertembus oleh militer Belanda.
- Menyerang secara tiba-tiba dari balik rawa-rawa sungai, merampas senjata musuh, lalu menghilang tanpa jejak sebelum Belanda sempat untuk melakukan serangan balik.
- Membangun jaringan intelijen yang kuat bersama masyarakat desa dan suku-suku pedalaman Jambi, sehingga pergerakan Belanda selalu bisa diantisipasi.
Bagi Belanda, menangkap Raden Mattaher merupakan obsesi sekaligus mimpi buruk. Sayembara dengan hadiah ribuan gulden pun sempat digelar bagi siapa saja yang bisa menyerahkan kepalanya menjadi sebuah bukti betapa frustrasinya pihak kolonial menghadapi sang Singo Depo.
Setiap kisah kepahlawanan selalu memiliki puncak dramatisnya. Bagi Raden Mattaher, hari itu jatuh pada tanggal 10 September 1907.
Setelah bertahun-tahun bergerilya pasca-gugurnya Sultan Thaha pada 1904, ruang gerak Raden Mattaher kian menyempit karena adanya pengkhianatan dan kepungan taktik Marsose (pasukan khusus Belanda). Bertempat di sebuah rumah di Dusun Olak Kemang, Jambi Kota Seberang, sang Singo Depo dikepung rapat oleh pasukan Belanda dalam sebuah operasi senyap subuh hari.
Meskipun kalah jumlah dan persenjataan, Raden Mattaher tetap menolak menyerah secara memalukan. Pertempuran jarak dekat yang sengit pun pecah. Raden Mattaher gugur sebagai patriot sejati, bersimbah darah dengan mempertahankan kehormatan tanah kelahirannya hingga hembusan napas terakhir.
Gugurnya Raden Mattaher tidak lantas memadamkan api perjuangan rakyat Jambi. Justru sebaliknya, dengan keberaniannya menjadi fondasi mental bagi para pemuda Jambi yang puluhan tahun kemudian bahu-membahu dalam mempertahankan Proklamasi 1945 dalam masa revolusi fisik.
Baca juga: Sejarah Pacu Jalur Kuansing, Tradisi Balap Perahu Warisan Budaya yang Mendunia
Hari ini, nama Raden Mattaher diabadikan sebagai nama Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) terbesar di Provinsi Jambi serta nama jalan protokol. Namun, penghormatan terbaik untuknya bukanlah hanya sekadar plang nama jalan yang berkarat dimakan usia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber