JAMBI - Bagi masyarakat Jambi, ibadah haji bukan hanya sekadar perjalanan fisik menuju Tanah Suci, melainkan juga sebuah transformasi spiritual yang melibatkan seluruh elemen masyarakat. Tak heran, prosesi melepas dan menyambut jemaah haji di "Negeri Melayu" ini kental dengan tradisi turun-temurun yang sarat akan makna filosofis.
Baca juga: Mengenal Tradisi Mengantar Jemaah Haji di Riau: Sarat Makna Kekeluargaan!
Berikut adalah gambaran mendalam mengenai kekayaan tradisi haji di Jambi yang masih lestari hingga saat ini.
Mengetuk Pintu Langit: Tradisi Pelepasan yang Khidmat
Pelepasan jemaah haji di Jambi seringkali dimulai jauh sebelum jemaah berangkat ke asrama haji. Rumah calon jemaah akan dipenuhi oleh sanak saudara, tetangga, hingga tokoh adat.
1. Pembacaan Kitab Berzanji dan Selawat
Suasana haru biasanya menyelimuti rumah jemaah saat lantunan Selawat Berzanji berkumandang. Tradisi ini adalah bentuk penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW sekaligus doa, agar jemaah diberikan kekuatan dan keselamatan selama menjalankan rukun Islam kelima.
2. Sedekah "Nasi Minyak"
Sebagai bentuk syukur, keluarga jemaah biasanya akan mengadakan jamuan makan bersama. Menu yang disajikan sering kali merupakan Nasi Minyak atau Nasi Kebuli khas Jambi yang dimasak dalam porsi besar. Makan bersama ini juga melambangkan kekeluargaan dan permohonan doa restu dari masyarakat sekitar agar jemaah menjadi haji yang mabrur.
Kemeriahan di Pintu Kampung: Tradisi Penyambutan
Jika pelepasan diwarnai suasana khidmat, penyambutan jemaah haji yang pulang sering kali berlangsung dengan penuh kegembiraan dan perayaan komunal.
1. Pawai Kompangan dan Rebana
Di daerah seperti Seberang Kota Jambi, jemaah haji yang baru tiba akan disambut dengan kelompok Kompangan. Irama rebana yang dinamis dan lantunan selawat yang ceria juga mengiringi langkah jemaah hingga sampai ke depan pintu rumah. Hal ini adalah bentuk apresiasi masyarakat atas kembalinya "Tamu Allah" ke tanah kelahiran.
2. Ritual Tabur Beras Kunit
Sesaat sebelum masuk ke dalam rumah, jemaah haji biasanya akan disambut dengan ritual Tabur Beras Kunit (beras kuning). Beras sendiri melambangkan kemakmuran, sementara warna kuning melambangkan kemuliaan. Tradisi ini dipercaya sebagai simbol tolak bala serta harapan agar keberkahan yang dibawa dari Mekkah dapat menyebar ke seluruh rumah dan keluarga.
3. "Rebutan" Air Zamzam dan Kurma
Penyambutan belum lengkap tanpa tradisi "bertandang". Warga akan berbondong-bondong datang untuk mencicipi air zamzam dan kurma. Bagi warga Jambi, mencicipi oleh-oleh langsung dari tangan jemaah haji dianggap sebagai cara untuk menjemput doa agar mereka pun segera mendapat panggilan untuk berangkat ke Tanah Suci.
Makna Sosial: Gelar yang Membawa Tanggung Jawab
Di Jambi, gelar Haji atau Hajjah bukan hanya sekadar imbuhan nama. Masyarakat memandang mereka yang pulang haji sebagai figur teladan atau tokoh agama baru di lingkungan tersebut. Warisan leluhur ini juga menjaga agar setiap jemaah yang pulang tetap menjaga perilaku dan kearifannya, sejalan dengan predikat haji yang mereka sandang.
Tradisi haji di Jambi merupakan bukti nyata bagaimana nilai religius dapat berpadu harmonis dengan kearifan lokal. Melalui Berzanji, Kompangan, hingga Beras Kunit, masyarakat Jambi telah menunjukkan bahwa keberangkatan satu orang ke Tanah Suci adalah kegembiraan dan doa bagi seluruh negeri.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber