Ilustrasi para pahlawan (pinterest)
JAMBI - Bumi Sepucuk Jambi Sembilan Lurah masih menyimpan rekam jejak sejarah perjuangan yang sangat panjang untuk mempertahankan kedaulatan Nusantara. Sejak masa perlawanan terhadap kolonial Belanda hingga fase mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia, para tokoh dan pejuang asal Jambi telah berdiri tegak di garis depan menentang segala bentuk penjajahan.
Baca juga: Daftar Pahlawan Perjuangan Kemerdekaan Asal Tangerang yang Jasanya Tak Terlupakan
Keberanian, pengorbanan, dan keteguhan prinsip para pahlawan dari Jambi menjadi warisan berharga yang wajib dikenal serta diteladani oleh generasi muda. Berikut adalah deretan tokoh dan pahlawan kemerdekaan dari Jambi yang mengukir sejarah tinta emas bagi bangsa Indonesia.
Sultan Thaha Syaifuddin merupakan Sultan Jambi terakhir yang secara gigih menolak tunduk pada perjanjian-perjanjian sepihak yang disodorkan oleh pemerintah kolonial Belanda.
Ketika Belanda berusaha menguasai perdagangan dan kekuasaan di Kerajaan Jambi, Sultan Thaha membatalkan perjanjian dengan Belanda dan memilih untuk memindahkan pusat pemerintahan ke pedalaman untuk memimpin perang gerilya. Beliau juga berjuang puluhan tahun hingga gugur dalam pertempuran pada tahun 1904.
Sultan Thaha Syaifuddin memiliki keteguhan prinsip dan pantang menyerah. Hal ini, membuktikan bahwa kedaulatan tanah air tidak bisa diperjualbelikan dengan jabatan atau kenikmatan materi.
Memiliki nama asli Raden Mattaher bin Raden Mohammad, beliau merupakan panglima perang legendaris Kerajaan Jambi yang juga adalah cucu dari Sultan Thaha Syaifuddin. Dikenal dengan julukan "Singa Muaro Sebo", strategi perangnya yang sangat ditakuti oleh pihak Belanda.
Raden Mattaher memimpin taktik perang gerilya yang cepat dan mematikan. Beliau juga berhasil untuk melumpuhkan berbagai pos logistik dan kapal-kapal perang Belanda di sepanjang aliran Sungai Batanghari. Beliau gugur sebagai kesuma bangsa dalam pertempuran di Dusun Muaro Singoan pada tahun 1907.
Raden Mattaher digambarkan sesosok yang memiliki keberanian luar biasa dan kecerdasan strategi. Keberaniannya membakar semangat rakyat bahwa keterbatasan senjata bukan alasan untuk berhenti melawan ketidakadilan.
Dari dataran tinggi Kerinci, muncul sosok panglima perang bernama Rahmad Titik Teras yang lebih dikenal sebagai Depati Parbo. Beliau merupakan simpul perlawanan rakyat Kerinci terhadap ekspansi militer Belanda pada awal abad ke-20.
Dalam Perang Kerinci (1902–1903), Depati Parbo telah memimpin pasukan lokal menahan gempuran serdadu Belanda di benteng-benteng pertahanan seperti Benteng Pulau Tengah. Ketangguhan dalam taktik bertempurnya yang membuat Belanda harus mengerahkan pasukan besar untuk menguasai wilayah Kerinci.
Beliau memiliki jiwa kepemimpinan dan kesetiaan pada tanah air. Beliau berdiri paling depan membela tanah kelahirannya demi menjaga kehormatan masyarakat adat.
Tidak hanya dari kalangan bangsawan dan militer, perjuangan kemerdekaan di Jambi juga digelorakan oleh para ulama. Salah satunya yaitu K.H. Daud Arif dari Kuala Tungkal, Kabupaten Tanjung Jabung Barat.
Beliau juga memanfaatkan panggung dakwah dan pendidikan Islam dalam membakar semangat nasionalisme rakyat pesisir Jambi. K.H. Daud Arif aktif untuk mengorganisasi pertahanan rakyat dan perlawanan terhadap agresi militer penjajah di wilayah Tanjung Jabung.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber