Ilustrasi gambaran desa vintage (pinterest)
JAMBI - Di tengah derasnya arus modernisasi dan perubahan lanskap perkotaan yang didominasi oleh beton, sebuah permukiman kuno di Provinsi Jambi, tetap mendekap erat warisan masa lalunya. Tempat itu merupakan Kampung Rantau Panjang, sebuah desa adat legendaris yang terletak di Kecamatan Tabir, Kabupaten Merangin, Jambi.
Di sinilah waktu seolah berjalan lebih lambat, yang menyisakan jajaran rumah panggung kayu berusia ratusan tahun yang tidak hanya eksotis secara visual. Selain itu, juga menyimpan kecerdasan arsitektur tingkat tinggi: struktur bangunan yang dirancang ramah gempa bumi.
Baca juga: Menyelami Sejarah dan Asal-Usul Kampung Bandan di Jakarta Utara yang Penuh Cerita Seru
Secara geografis, Rantau Panjang membentang di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Batang Tabir. Posisi ini telah mengkokohkan karakteristik khas permukiman Melayu Tua (Proto Melayu) masa lampau dan selalu menjadikan sungai sebagai urat nadi kehidupan utama. Mengunjungi kampung ini berarti bersiap melakukan perjalanan lintas waktu untuk menyaksikan bagaimana manusia, alam, dan adat istiadat yang masih hidup berdampingan secara harmonis selama berabad-abad.
Nama "Rantau Panjang" bukan hanya sekadar identitas di peta administrasi wilayah. Bagi masyarakat adat setempat, nama tersebut yang merujuk kepada kondisi topografi asli desa yang berada di sepanjang bentangan (rantau) tepian sungai yang memanjang. Berdasarkan penuturan lisan para tetua adat, wilayah ini pertama kali telah dibuka oleh para puyang (nenek moyang) suku Melayu Tua sekitar abad ke-14.
Sebagai salah satu kampung tertua di Bumi Sepucuk Jambi Sembilan Lurah, Rantau Panjang dibangun dengan fondasi hukum adat yang sangat kuat. Hingga sampai hari ini, aturan adat bertajuk "Adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah" tercermin jelas dalam kehidupan sehari-hari warga desa. Hubungan sosial, tata cara pengelolaan kebun, hingga pelestarian kompleks permukiman telah diatur secara ketat lewat sanksi adat yang dihormati lintas generasi.
Gambaran Kampung Rumah Tuo Rantau Panjang, (geopark.meranginkab.go.id)
Daya tarik utama dilihat dari pada Kampung Rantau Panjang adalah keberadaan kompleks Rumah Tuo (Rumah Tua). Beberapa rumah panggung di kampung ini diklaim telah berusia lebih dari 300 hingga 400 tahun, dibangun oleh generasi awal pembuka kampung dan masih dihuni secara turun-temurun oleh keturunan mereka.
Jika diperhatikan dari dekat, struktur Rumah Tuo Rantau Panjang yang mengusung konsep arsitektur vernakular yang sangat genius. Seluruh bangunan dibuat dari kayu-kayu pilihan seperti kayu tembesu dan bulian yang semakin tua justru akan semakin mengeras. Hebatnya lagi, konstruksi bangunan panggung raksasa ini sama sekali tidak menggunakan paku besi.
Rahasia Struktur Anti-Gempa Rumah Tuo
Alih-alih menancapkan paku untuk menyambung tiang dan balok kayu, para leluhur Rantau Panjang menggunakan sistem pasak kayu dan konsep kancingan. Sambungan fleksibel ini yanng telah menjadi rahasia mengapa Rumah Tuo bersifat anti-gempa. Saat tanah bergoyang akibat gempa bumi, struktur bangunan tidak akan patah atau retak, melainkan ikut bergoyang secara elastis dengan mengikuti ritme getaran bumi.Selain sistem pasaknya, fondasi tiang Rumah Tuo juga tidak ditanam ke dalam tanah.
Tiang-tiang kayu penyangga utama yang berjumlah belasan tersebut juga didirikan di atas sebongkah batu pipih besar (batu ganjal). Sistem ini bisa mencegah kayu membusuk akibat kelembapan tanah sekaligus meredam hantaman gelombang seismik dari bawah permukaan bumi.
Rumah Tuo di Rantau Panjang bukan hanya sekadar tempat berlindung dari hujan dan panas, melainkan juga sebagai manifestasi dari nilai-nilai luhur masyarakat Melayu Jambi. Struktur rumah dibagi menjadi beberapa tingkatan ruang yang memiliki fungsi sosial dan sakral yang berbeda:
Sentuhan estetika juga terpancar kuat dari ukiran-ukiran kayu yang menghiasi kusen jendela, ventilasi, dan lisplang atap. Motif ukiran didominasi dengan bentuk flora lokal, seperti keluk pakis, bunga melati, dan pucuk rebung. Motif-motif ini juga membawa pesan filosofis tentang pertumbuhan, kesuburan, serta pentingnya selalu berguna bagi lingkungan sekitar.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber