Ilustrasi tradisi haji (pinterest)
JAMBI - Bagi masyarakat Jambi, ibadah haji bukan hanya sekadar perjalanan fisik menuju Tanah Suci, melainkan juga sebuah transformasi spiritual yang melibatkan seluruh elemen masyarakat. Tak heran, prosesi melepas dan menyambut jemaah haji di "Negeri Melayu" ini kental dengan tradisi turun-temurun yang sarat akan makna filosofis.
Baca juga: Mengenal Tradisi Mengantar Jemaah Haji di Riau: Sarat Makna Kekeluargaan!
Berikut adalah gambaran mendalam mengenai kekayaan tradisi haji di Jambi yang masih lestari hingga saat ini.
Pelepasan jemaah haji di Jambi seringkali dimulai jauh sebelum jemaah berangkat ke asrama haji. Rumah calon jemaah akan dipenuhi oleh sanak saudara, tetangga, hingga tokoh adat.
1. Pembacaan Kitab Berzanji dan Selawat
Suasana haru biasanya menyelimuti rumah jemaah saat lantunan Selawat Berzanji berkumandang. Tradisi ini adalah bentuk penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW sekaligus doa, agar jemaah diberikan kekuatan dan keselamatan selama menjalankan rukun Islam kelima.
2. Sedekah "Nasi Minyak"
Sebagai bentuk syukur, keluarga jemaah biasanya akan mengadakan jamuan makan bersama. Menu yang disajikan sering kali merupakan Nasi Minyak atau Nasi Kebuli khas Jambi yang dimasak dalam porsi besar. Makan bersama ini juga melambangkan kekeluargaan dan permohonan doa restu dari masyarakat sekitar agar jemaah menjadi haji yang mabrur.
Jika pelepasan diwarnai suasana khidmat, penyambutan jemaah haji yang pulang sering kali berlangsung dengan penuh kegembiraan dan perayaan komunal.
1. Pawai Kompangan dan Rebana
Di daerah seperti Seberang Kota Jambi, jemaah haji yang baru tiba akan disambut dengan kelompok Kompangan. Irama rebana yang dinamis dan lantunan selawat yang ceria juga mengiringi langkah jemaah hingga sampai ke depan pintu rumah. Hal ini adalah bentuk apresiasi masyarakat atas kembalinya "Tamu Allah" ke tanah kelahiran.
2. Ritual Tabur Beras Kunit
Sesaat sebelum masuk ke dalam rumah, jemaah haji biasanya akan disambut dengan ritual Tabur Beras Kunit (beras kuning). Beras sendiri melambangkan kemakmuran, sementara warna kuning melambangkan kemuliaan. Tradisi ini dipercaya sebagai simbol tolak bala serta harapan agar keberkahan yang dibawa dari Mekkah dapat menyebar ke seluruh rumah dan keluarga.
3. "Rebutan" Air Zamzam dan Kurma
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber