JAMBI - Selama ini, Jambi mungkin lebih dikenal sebagai penghasil komoditas perkebunan di Sumatra. Namun, di balik rimbunnya perkebunan, wilayah ini juga menyimpan lapisan sejarah yang membentang dari ratusan juta tahun lalu hingga era keemasan maritim Nusantara.
Berikut adalah fakta-fakta sejarah pembentukan wilayah Jambi yang jarang diketahui publik:
Baca juga: Jejak Sejarah Benteng Nieuw Victoria di Ambon: Dari Portugis, VOC, hingga Konflik RMS
1. Merangin: Saksi Bisu Daratan Tertua di Nusantara
Jauh sebelum peradaban manusia muncul, wilayah Jambi Barat, tepatnya di Kabupaten Merangin, sudah menjadi rumah bagi ekosistem purba. Geopark Merangin juga menyimpan fosil flora yang dikenal sebagai Jambi Flora. Terdapat fosil pohon dan tanaman yang membatu di sepanjang Sungai Batang Merangin berasal dari Periode Permian (sekitar 290-300 juta tahun lalu). Ini menjadi salah satu peninggalan daratan tertua yang bisa disaksikan di Indonesia, jauh sebelum pulau-pulau lain di Nusantara terbentuk sepenuhnya seperti sekarang.
2. Muaro Jambi: "Oxford" Masa Lalu di Tengah Hutan
Jika Jawa memiliki Borobudur, Jambi memiliki Kompleks Percandian Muaro Jambi. Dengan luas hampir 4.000 hektar, situs ini adalah kompleks percandian terluas di Asia Tenggara. Situs Muaro Jambi bukan hanya sekadar tempat ibadah, melainkan pusat pendidikan (universitas) internasional pada abad ke-7 hingga ke-12. Banyak cendekiawan dari Tiongkok dan India yang tinggal di sini untuk mendalami filsafat dan bahasa sebelum melanjutkan perjalanan. Struktur bangunannya yang masih menggunakan bata merah menunjukkan adaptasi arsitektur terhadap material tanah liat sungai yang melimpah di Jambi.
3. Teka-teki Nama "Jambi" dan Pohon Pinang
Nama "Jambi" juga memiliki akar etimologi yang menarik. Versi yang paling kuat secara historis merujuk pada kata "Jambe" yang dalam bahasa Jawa berarti Pinang. Menurut babad lokal, pada masa pemerintahan Putri Selaras Pinang Masak, wilayah ini juga banyak ditanami pohon pinang. Nama "Jambe" kemudian mengalami pergeseran fonetik yang menjadi "Jambi". Hal ini juga menandakan bahwa hubungan diplomatik dan budaya yang erat antara kerajaan di Jambi dengan kerajaan-kerajaan di Jawa pada masa lampau.
4. Pergeseran Pusat Melayu dari Hilir ke Hulu
Banyak yang mengira Jambi selalu berada di lokasinya yang sekarang. Secara historis, untuk pusat kekuasaan wilayah ini sering berpindah mengikuti aliran Sungai Batanghari. Ketika adanya ancaman serangan dari luar (seperti serangan Chola dari India atau ekspedisi Pamalayu) meningkat, pusat pemerintahan Jambi sering kali bergeser ke arah pedalaman (hulu) dengan alasan keamanan. Inilah sebabnya mengapa peninggalan sejarah Jambi tersebar luas dari wilayah pesisir hingga sampai ke kaki pegunungan Kerinci.
5. Integrasi Wilayah Melalui Jalur Sungai dan Terminal Purba
Pembentukan wilayah administratif Jambi ini sangat dipengaruhi oleh topografi sungainya. Sebelum adanya jalan lintas Sumatra, wilayah-wilayah di Jambi terintegrasi melalui jalur sungai. Lokasi yang sekarang menjadi ini menjadi pusat kota atau terminal transportasi sering kali dulunya adalah "Pangkalan" atau pelabuhan sungai kecil tempat bertemunya pedagang dari pedalaman (seperti hasil hutan dari suku batin) dengan pedagang mancanegara. Struktur wilayah Jambi modern sebenarnya adalah jejak dari rute perdagangan air masa lalu yang kini telah berubah menjadi aspal.
Baca juga: Mengungkap Asal-usul dan Sejarah Panjang di Balik Nama Riau
Mengenal sejarah Jambi berarti memahami bahwa wilayah ini adalah salah satu fondasi utama peradaban Melayu di Nusantara. Dari fosil purba di Merangin hingga universitas kuno di Muaro Jambi, setiap sudut daerah ini adalah potongan teka-teki sejarah yang membentuk identitas Indonesia hari ini.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber