JAMBI - Provinsi Jambi tidak hanya sekedar dikenal dengan Sungai Batanghari yang melegenda, tetapi juga kekayaan arsitektur tradisionalnya yang sarat makna. Salah satu warisan budaya yang paling menonjol yaitu Rumah Kajang Lako. Rumah ini bukan sekadar tempat berteduh, melainkan juga simbol identitas, status sosial, dan kearifan lokal masyarakat Suku Batin yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Baca juga: Rumah Adat Selaso Jatuh Kembar : Filosofi,Simbol Kebersamaan dan Kearifan Lokal Yang Memukau
1. Filosofi Arsitektur: Atap "Gajah Mabuk"
Ciri khas yang paling mencolok dari Rumah Kajang Lako terletak pada bentuk atapnya. Struktur atap ini juga disebut sebagai Lipat Kajang atau lebih populer dengan sebutan Gajah Mabuk.
Bagian ujung atap yang melengkung ke atas menyerupai perahu, yang mencerminkan kedekatan masyarakat Jambi dalam kehidupan air dan sungai. Nama "Gajah Mabuk" sendiri diambil dari kisah pembuatnya yang konon sedang dimabuk asmara saat mendesain bangunan ini, sehingga menghasilkan suatu bentuk yang unik dan artistik.
2. Struktur Panggung yang Adaptif
Rumah Kajang Lako juga dibangun dengan konsep rumah panggung. Secara teknis, struktur ini didesain dalam beradaptasi dengan lingkungan Jambi yang memiliki banyak rawa dan aliran sungai.
- Tiang Penyangga yang berdiri di atas 30 tiang besar (24 tiang utama dan 6 tiang tambahan).
- Fungsi selain untuk menghindari banjir, kolong rumah panggung ini biasanya digunakan untuk menyimpan alat pertanian atau sebagai tempat ternak.
3. Hierarki Tata Ruang (Delapan Ruangan Utama)
Keunikan lain dari rumah ini adalah pembagian ruangannya yang sangat tertata sesuai dengan fungsinya dalam adat:
- Pelamban: Bagian depan yang berfungsi sebagai tempat ruang tunggu tamu.
- Ruang Ganti: Tempat tamu untuk merapikan diri sebelum masuk.
- Masinding: Ruang depan untuk musyawarah atau sebagai tempat upacara adat (khusus pria).
- Tengah: Ruang utama untuk anggota keluarga.
- Balik Melintang: Ruang khusus bagi orang yang dihormati atau tetua adat.
- Paling Belakang: Digunakan dalam ruang tidur gadis atau anak perempuan.
- Gaho: Ruang penyimpanan untuk makanan dan dapur.
- Bauman: Ruang untuk memasak saat ada pesta atau hajatan adat.
4. Ukiran dan Ornamen yang Penuh Makna
Dinding dan tiang Rumah Kajang Lako biasanya juga dihiasi dengan ukiran motif flora (tumbuh-tumbuhan). Motif yang sering digunakan antara lain Bungo Melati, Bungo Tanjuang, dan Bungo Rayo. Ukiran tersebut tidak hanya sekedar berfungsi sebagai pemanis, tetapi juga melambangkan kesuburan tanah Jambi dan keramah-tamahan penduduknya.
5. Upaya Pelestarian di Era Modern
Meskipun rumah modern mulai mendominasi, Rumah Kajang Lako tetap menjadi rujukan utama dalam setiap pembangunan gedung pemerintahan di Jambi yang berguna untuk menjaga identitas daerah. Desa Rantau Panjang di Kabupaten Merangin menjadi salah satu tempat di mana kita masih bisa melihat deretan rumah asli yang telah berusia ratusan tahun.
Baca juga: Mengintip Filosofi Rumah Adat Bali yang Masih Dipegang Mayarakat Lokal Hingga Sekarang
Rumah Kajang Lako merupakan bukti nyata betapa tingginya peradaban masyarakat Jambi di masa lalu. Dengan memahami setiap jengkal bagian rumah ini, kita belajar mengenai cara manusia menghormati alam, menjaga hubungan sosial, dan melestarikan nilai-nilai leluhur di tengah arus zaman yang terus berubah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber