Ilustrasi bisokop terbengkalai (pinterest)
JAMBI - Bagi sebagian besar masyarakat Kota Jambi, kawasan Sipin hari ini dikenal sebagai salah satu pusat urat nadi modernisasi. Di sepanjang jalannya, lampu-lampu neon dari kafe kekinian, deretan ruko, dan kendaraan yang hilir mudik menciptakan ritme urban yang padat dan hidup. Namun, tepat di balik tirai keramaian tersebut, ada sebuah anomali yang berdiri kokoh dalam keheningan total yaitu di Eks Bioskop Taruna.
Gedung yang dulunya telah menjadi saksi bisu tawa, air mata, dan gemuruh tepuk tangan para pencinta sinema abad lalu, kini telah lama berubah menjadi monumen mati. "Layar hitam" di Sipin ini tidak lagi memutarkan film, melainkan juga menyimpan lorong-lorong sunyi yang mencekam, yang menjadikannya salah satu destinasi terbengkalai paling ikonik sekaligus mengundang rasa penasaran di Jambi.
Baca juga: Mengungkap Misteri Gedung Terbengkalai di Pekanbaru: Berani Uji Nyali?
Untuk memahami mengapa tempat ini begitu memikat sekaligus mistis, kita harus memutar kembali ingatan kolektif warga Jambi ke era 1980-an hingga awal 1990-an. Pada masa keemasannya, Bioskop Taruna merupakan pusat hiburan nomor satu. Menonton film di sini meulai menampilkan film aksi laga, drama romantis, hingga horor klasik Indonesia yang merupakan sebuah prestise tersendiri bagi anak muda zaman itu.
Wangi berondong jagung (popcorn), antrean panjang di loket karcis, hingga sampai suara proyektor yang berputar konstan pernah menghidupkan bangunan ini. Namun, seiring waktu dengan masuknya era VCD bajakan, disusul menjamurnya bioskop jaringan modern di dalam mal, Taruna perlahan kehilangan penontonnya. Layar diturunkan untuk terakhir kalinya, lampu dipadamkan, dan pintu-pintu besi dikunci rapat, dan membiarkan gedung ini menua sendirian digerus waktu.
Memasuki area eks Bioskop Taruna hari ini akan langsung memicu adrenalin siapa saja yang berani melangkah ke dalam. Ketika kaki melewati pembatas jalan, atmosfer dari bising khas Sipin seolah tersedot hilang dan digantikan oleh keheningan pekat yang intimidatif.
Lanskap luar gedung kini telah didominasi oleh fenomena nature reclaiming built environment. Pohon-pohon liar tumbuh subur yang menembus lantai beton, dan akar-akar raksasa merambat kokoh mencengkeram dinding semen yang kusam dan retak. Dari luar, struktur bangunan ini tampak seperti reruntuhan kuno di tengah hutan, padahal letaknya berada di jantung kota.
Saat melangkah lebih dalam menuju eks area lobi dan teater utama, suasananya berubah menjadi semakin dramatis sekaligus mencekam:
Gambaran Eks Bioskop Taruna (jumardiputra.com)
Sebagai destinasi terbengkalai, eks Bioskop Taruna ini juga memiliki daya tarik ganda. Bagi para pencinta fotografi Urban Exploration (Urbex), tempat ini merupakan surga visual grunge yang sangat mahal. Tekstur semen yang mengelupas, karat pada sisa rangka besi, dan kontras warna hijau daun dari tanaman liar memberikan karakter foto yang sangat kuat.
Namun di sisi lain, bagi pencinta dunia mistic, Taruna adalah pusatnya urban legend kota. Cerita-cerita lisan dari mulut ke mulut di kalangan warga sekitar mengenai suara langkah kaki di lorong kosong, aroma wangi melati yang mendadak menyeruak, hingga sampai penampakan siluet penonton di sudut teater yang gelap, terus hidup secara berdampingan dengan sejarah fisik bangunan ini.
Eks Bioskop Taruna Sipin membuktikan bahwa sebuah kota selalu memiliki sisi lain yang tersembunyi di balik gemerlapnya. Tempat ini tidak lagi menjual cerita lewat film-film yang diputarnya, melainkan telah menjadi cerita itu sendiri.
Jika Anda tertarik untuk datang berkunjung, baik demi berburu foto sinematik maupun hanyasekadar memuaskan rasa penasaran, selalu ingat tiga aturan emas penjelajahan urban:
Baca juga: Dari Hotel PI Bedugul hingga Taman Festival, Ini Deretan Gedung Terbengkalai di Bali
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber