Ilustrasi gambaran Sultan Thaha Syaifuddin (pinterest)
JAMBI - Di tengah rimba Sumatera yang lebat dan aliran Sungai Batanghari yang tenang, terdapat sebuah kisah perlawanan yang membuat militer Belanda kewalahan selama hampir setengah abad. Sosok tersebut yaitu Sultan Thaha Syaifuddin, seorang pejuang Kesultanan Jambi yang telah membuktikan bahwa kedaulatan sebuah bangsa tidak bisa ditukar dengan kenyamanan sesaat di bawah telapak kaki penjajah.
Sultan Thaha Syaifuddin naik takhta pada tahun 1855 pada usia yang tergolong muda. Sejak awal, beliau membawa semangat baru yang kontras dengan sikap kooperatif beberapa pendahulunya terhadap Belanda. Langkah pertama yang dilakukan oleh beliau adalah ambil tindakan diplomasi yang sangat berani dan membatalkan secara sepihak seluruh perjanjian yang telah dibuat oleh Kesultanan Jambi dengan pemerintah kolonial Belanda.
Bagi Sultan Thaha, perjanjian-perjanjian tersebut hanyalah alat penjajah dalam mengeruk kekayaan alam Jambi dan membatasi ruang gerak rakyatnya. Ketegasan ini telah menjadi sinyal awal bahwa masa kepemimpinannya akan menjadi duri dalam daging bagi kepentingan Belanda di Sumatera.
Puncak ketegangan terjadi pada tahun 1858. Menanggapi pembangkangan Sultan, Belanda telah mengirimkan ekspedisi militer besar-besaran untuk menduduki pusat pemerintahan Kesultanan Jambi. Namun, Belanda tidak menemukan lawan yang menyerah.
Dalam sebuah tindakan yang dramatis, Sultan Thaha juga memerintahkan supaya istananya dibakar hingga rata dengan tanah. Beliau juga menolak untuk membiarkan simbol kedaulatan rakyatnya dijadikan markas oleh musuh. Bersama pengikut setianya, beliau mundur jauh ke pedalaman hutan dan wilayah hulu, memulai babak baru dengan perjuangan Perang Gerilya.
Selama hampir 50 tahun (1858-1904), Sultan Thaha yang memimpin rakyat Jambi dalam perang semesta. Beliau tidak hanya sekedar menggunakan kekuatan fisik, tetapi juga kecerdikan strategi:
Sepanjang periode ini, Belanda berkali-kali juga mencoba untuk menawarkan perdamaian dan pengakuan kekuasaan, namun Sultan Thaha selalu menjawab dengan penolakan dengan keras selama Belanda masih menginjakkan kaki sebagai penjajah.
Perjuangan tanpa henti ini menemui puncaknya pada tanggal 26 April 1904. Melalui informasi dari mata-mata, Belanda akhirnya berhasil melacak persembunyian Sultan di Dusun Betung (wilayah Kabupaten Tebo saat ini). Dalam sebuah penyergapan fajar yang sengit, Sultan Thaha Syaifuddin gugur dalam medan laga.
Meskipun fisiknya telah tiada, akan tetapi kematian Sultan Thaha tidak berarti kemenangan bagi Belanda. Semangatnya yang telah terlanjur mendarah daging dalam diri pejuang-pejuang Jambi lainnya yang terus melanjutkan perlawanan hingga Indonesia merdeka.
Sultan Thaha Syaifuddin bukan hanya sekadar nama bandara maupun universitas di Jambi. Beliau adalah manifestasi dari integritas seorang pemimpin. Hingga akhir hayatnya, beliau memegang teguh sumpah untuk tidak pernah tunduk pada penjajah.
Kisah perjuangannya juga mengingatkan kita bahwa kedaulatan merupakan harga mati, dan sejarah akan selalu berpihak kepada mereka yang berani melawan ketidakadilan, meski harus berjuang dari dalam gelapnya hutan rimba.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber