Gambaran salah satu candi yang ada di Indonesia (pinterest)
JAMBI - Di sepanjang tepian Sungai Batanghari yang tenang, tersimpan sebuah rahasia besar dari masa abad ke-7 hingga sampai ke-13 Masehi. Bukan hanya sekadar tumpukan bata merah, Kompleks candi Muaro Jambi merupakan saksi bisu betapa megahnya peradaban Melayu Kuno yang pernah menjadi pusat perhatian dunia.
Baca juga: Kamu Harus Tahu! Candi Muara Takus Ternyata Candi Tertua di Sumatra
Pemandangan Candi Muaro Jambi (helloindonesia.id)
Berbeda dengan candi-candi di Jawa yang umumnya terbuat dari batu andesit, Muaro Jambi berdiri megah dengan struktur bata merah. Luas situs ini juga mencapai hampir 4.000 hektar delapan kali lipat lebih luas dari Candi Borobudur yang menjadikannya kompleks percandian terluas di Asia Tenggara.
Namun, daya tarik utamanya bukan hanya mengenai soal ukuran. Muaro Jambi merupakan "kota universitas" pada masanya. Berdasarkan catatan penjelajah Tiongkok, I-Tsing, ribuan biksu datang ke tempat ini untuk memperdalam ilmu filsafat dan agama sebelum melanjutkan perjalanan ke India.
Setiap struktur yang berhasil dipugar, seperti Candi Gumpung, Candi Tinggi, dan Candi Kedaton, menyimpan detail arsitektur yang unik. Parit-parit kuno yang mengelilingi kompleks ini bukan hanya sekadar saluran air, melainkan simbol filosofis sekaligus benteng perlindungan dari luapan Sungai Batanghari.
Di dalam Candi Gumpung, misalnya, juga ditemukan arca Prajnaparamita yang melambangkan dewi kebijaksanaan. Hal ini juga menguatkan bukti bahwa Jambi pernah menjadi mercusuar intelektual di mana ilmu pengetahuan dan spiritualitas berjalan beriringan.
Kejayaan Melayu Kuno di Jambi tidak lepas dari posisi strategisnya dalam jalur perdagangan maritim. Melalui Sungai Batanghari, komoditas emas, kapur barus, dan rempah-rempah dikirim ke berbagai penjuru dunia, mulai dari Tiongkok hingga India.
Candi-candi ini adalah bukti bahwa masyarakat Jambi kala itu juga memiliki kemandirian ekonomi yang luar biasa. Kekayaan tersebut kemudian diinvestasikan dalam membangun pusat peradaban yang hingga sampai kini masih bisa kita saksikan keagungannya.
Pemandangan Candi Muaro Jambi (Mas Bellboy)
Meskipun sebagian besar bangunan masih tertutup gundukan tanah (menapo), upaya pelestarian terus dilakukan. Mengenali sejarah Muaro Jambi bukan hanya sekedar soal membanggakan masa lalu, tetapi juga memahami identitas kita sebagai bangsa yang pernah memimpin peradaban di Asia Tenggara.
Saat kita berdiri di antara reruntuhan bata merah tersebut, kita seolah mendengar gema masa lalu dalam sebuah pesan tentang kerja keras, kecerdasan arsitektur, dan keterbukaan terhadap dunia luar.
Baca juga: Melihat Eksotisnya Candi Tebing Tegallinggah, Dipahat Langsung di Dinding Tebing Sungai
Muaro Jambi merupakan bukti nyata bahwa kebesaran masa lalu tidak selalu terukir di atas batu andesit yang megah, namun juga pada setiap keping bata merah yang disusun dengan ketelitian dan doa. Kini, tugas kita adalah memastikan bahwa 'Gema Masa Lalu' ini tidak hilang ditelan zaman. Mari berkunjung, belajar, dan menjaga pusaka dunia yang ada di jantung Jambi ini agar ia terus bercerita kepada dunia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber