JAMBI - Gema lonceng gereja di sepanjang Jalan Raden Mattaher hingga samppai sudut-sudut wilayah Muaro Jambi tahun ini terasa berbeda. Paskah 2026 di Provinsi Jambi bukan hanya sekadar ritual tahunan menghias telur, melainkan juga sebuah panggung besar di mana iman bertemu dengan kearifan lokal yang kental.
Baca juga: Rabu Abu di Banda Aceh: 400 Umat Katolik Mulai Perjalanan 40 Hari Menuju Paskah
Di balik kemeriahannya, ada deretan tradisi unik yang membuktikan bahwa Paskah di "Bumi Sepucuk Jambi Sembilan Lurah" juga memiliki warna tersendiri.
Sentuhan Batik Jambi di Atas Cangkang Telur
Jika biasanya telur Paskah identik dengan warna-warni pastel, anak-anak Sekolah Minggu di beberapa gereja di Jambi tahun ini juga tampil beda. Mereka melukis telur tetapi dengan motif Batik Jambi. Motif Kapal Sanggat dan Batanghari tampak cantik melingkari cangkang telur.
Drama Tablo: Kisah Sengsara dengan Rasa Lokal
Di pelataran Gereja Santa Teresia, visualisasi Jalan Salib atau Tablo tetap menjadi magnet utama. Ratusan warga, bahkan mereka yang hanya sekadar melintas, berhenti sejenak untuk menyaksikan adegan teatrikal yang mengharukan. Menariknya, terdapat dialog yang dibawakan terkadang menyelipkan logat lokal yang akrab di telinga, membuat pesan pengorbanan terasa lebih dekat dengan keseharian masyarakat Jambi.
Tradisi "Manganan" di Desa Ekstransmigrasi
Bergerak ke wilayah kabupaten seperti Muaro Jambi dan Merangin, perayaan Paskah menyatu dengan tradisi agraris. Di desa-desa ekstransmigrasi yang dihuni etnis Jawa dan Batak, juga muncul tradisi Manganan atau makan bersama setelah ibadah Minggu Paskah.
Alih-alih jamuan modern, menu yang disajikan adalah perpaduan:
Simbol Toleransi yang Nyata
Yang paling mengesankan dari Paskah di Jambi tahun ini adanya kehadiran pemuda lintas agama yang turut dalam membantu mengatur lalu lintas dan keamanan di sekitar rumah ibadah. Di Jambi, Paskah bukan hanya milik umat Kristiani, tetapi juga menjadi momen di mana semboyan "Pucuk Jambi Sembilan Lurah" (persatuan berbagai wilayah/golongan) benar-benar dipraktikkan.
Baca juga: Memahami Jalan Salib, Beserta Maknanya Menjelang Paskah
Perayaan Paskah tahun ini telah membuktikan bahwa perbedaan keyakinan tidak menjadi penghalang untuk mencintai budaya lokal. Jambi sekali lagi telah menunjukkan bahwa iman dan tradisi bisa berjalan beriringan, yang menciptakan harmoni yang indah dipandang mata.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber