Senin, 02 MARET 2026 • 22:51 WIB

Tradisi Cap Go Meh yang Tetap Lestari: Simbol Keberagaman di Kawasan Pecinan Jambi

Author

Ilustrasi dekoeasi perayaan Imlek (pinterest)

JAMBI - Deru tambur Barongsai dan aroma hio yang menyeruak di udara menjadi penanda bahwa puncak perayaan Tahun Baru Imlek telah tiba. Di jantung Kota Jambi, lebih tepatnya di Kawasan Pecinan, tradisi Cap Go Meh bukan hanya sekadar ritual penutup tahun. Melainkan manifestasi nyata dari warisan budaya yang tetap lestari di tengah arus modernitas. Beberapa tradisi Cap Go Meh yang masih dilestarikan hingga saat ini:

Baca juga: Mengenal Cap Go Meh, Festival Lampion Penutup Imlek yang Sarat Makna

  • Denyut Nadi di Jantung Pecinan

Kawasan KONI (Talang Jauh) dan Pasar Jambi mendadak berubah menjadi lautan merah. Ratusan lampion yang menggantung di sepanjang jalan seolah menjadi saksi bisu bagaimana komunitas Tionghoa di Jambi sangat menjaga api tradisi mereka tetap menyala. Bagi warga Jambi, perayaan ini merupakan momen yang paling dinantikan setiap tahunnya.

  • Atraksi Tatung: Warisan Ekstrem yang Magis

Salah satu elemen yang membuat Cap Go Meh di Jambi tetap eksis dan unik adalah kehadiran Tatung atau Tangki. Atraksi tersebut, menampilkan individu yang berada dalam kondisi bawah sadar yang mempertunjukkan kekebalan tubuh terhadap benda tajam.

  • Kirab Budaya dan Pawai Kio

Puncak acara ditandai dengan Kirab Budaya. Patung-patung dewa ditandu menggunakan Kio (tandu suci) dan diarak keliling kawasan pecinan. Menariknya, iring-iringan tersebut tidak hanya sekedar diikuti oleh barisan Barongsai dan Liong, tetapi juga sering kali melibatkan komunitas seni lokal Jambi. Inilah yang membuat Cap Go Meh di Jambi memiliki "rasa" yang berbeda dalam sebuah perpaduan harmoni antara budaya Tionghoa dan kearifan lokal Melayu Jambi.

  • Simbol Keberagaman dan Toleransi

Tahun 2026 ini menjadi momen spesial. Mengingat waktu perayaan yang berdekatan dengan persiapan memasuki bulan suci Ramadan, semangat toleransi begitu terasa. Masyarakat dari berbagai etnis seperti Melayu, Jawa, Minang, hingga Batak juga ikut memeriahkan di pinggir jalan untuk menyaksikan kemeriahan acara.

Pemerintah Kota Jambi melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan pun juga telah menetapkan Cap Go Meh sebagai agenda wisata unggulan. Dukungan pemerintah tersebut, memastikan bahwa fasilitas publik, keamanan, dan promosi acara dikelola dengan baik agar tradisi ini tidak hanya lestari secara ritual, tetapi juga mampu menggerakkan ekonomi kreatif lokal.

Baca juga: Rangkaian Cap Go Meh 2026 di Bali: Jadwal, Tradisi, Kirab Budaya, Makna Spiritual, serta Penutup Imlek

Perayaan diakhiri dengan pesta kembang api yang menghiasi langit malam Kota Jambi. Cahayanya mencerminkan harapan warga agar kedamaian dan kesejahteraan selalu menyelimuti "Tanah Pilih Pesako Betuah". Cap Go Meh di Jambi  telah membuktikan bahwa perbedaan bukanlah sekat, melainkan warna-warni yang memperindah wajah kota.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Berbagai Sumber

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU