Warisan Leluhur: Ragam Tradisi Idul Fitri Menjelang Lebaran yang Masih Lestari di Provinsi Jambi
JAMBI - Provinsi Jambi, yang dikenal dengan semboyan yaitu "Sepucuk Jambi Sembilan Lurah", tidak hanya kaya akan sumber daya alam, tetapi juga menyimpan khazanah budaya yang masih kental dengan nuansa Melayu Islam. Saat gema takbir berkumandang, masyarakat Jambi tidak hanya sekedar merayakannya dengan sukacita spiritual, tetapi juga dengan menghidupkan kembali tradisi turun-temurun yang masih dipertahankan.
Baca juga: Berbagai Tradisi Menjelang Lebaran Idul Fitri di Sumbar: Mulai Dari Silaturahmi Sampai Marandang
Meskipun zaman kian modern, beberapa tradisi berikut tetap kokoh berdiri sebagai simbol perekat sosial dan identitas masyarakat Jambi.
1. Menjemput Lailatul Qadar dengan Lampu Teklok
Salah satu pemandangan paling ikonik di Jambi menjelang Lebaran merupakan fenomena Malam Selikur (malam ke-21 Ramadan). Masyarakat di sepanjang pinggiran Sungai Batanghari sampai dengan pelosok desa akan memasang Lampu Teklok maupun pelita berbahan bakar minyak tanah.
Lampu-lampu tersebut, diletakkan di pagar rumah, jalan setapak, hingga halaman masjid. Secara filosofis, cahaya ini merupakan bentuk dari kegembiraan menyambut sepuluh malam terakhir Ramadan yang diyakini sebagai turunnya malam Lailatul Qadar. Tradisi ini menciptakan suasana syahdu dan hangat, seolah memberikan "penerangan" bagi para perantau yang mulai datang dan menapakkan kaki di tanah kelahiran.
2. Gemuruh Takbir dan Pawai Kendaraan Hias
Malam Lebaran di Jambi merupakan malam perayaan rakyat. Di Kota Jambi, tradisi takbir keliling telah bertransformasi menjadi Pawai Kendaraan Hias. Mobil-mobil bak terbuka disulap menjadi replika masjid, kapal, hingga hewan-hewan simbolis yang dihiasi oleh lampu warna-warni.
Suara bedug yang dipukul bertalu-talu mengiringi lantunan takbir yang menggema di sepanjang jalan protokol. Tradisi ini bukan hanya sekadar hiburan, melainkan bentuk syiar Islam yang melibatkan pemuda karang taruna maupun remaja masjid untuk menunjukkan kreativitas mereka.
3. Kuliner Khas Antara Gangan Manis dan Kue Delapan Jam
Meja tamu di rumah-rumah penduduk Jambi saat Lebaran adalah etalase budaya kuliner. Adanya satu hidangan yang hampir selalu ada dan menjadi pembeda dengan daerah lain, yaitu Gangan Manis. Hidangan tersebut adalah ikan air tawar (seperti ikan Patin atau Toman) dengan kuah bening berbahan rempah segar ini, memberikan keseimbangan rasa di tengah gempuran masakan bersantan seperti rendang.
Selain itu, Jambi mengenal akan "Kue Basah" yang memerlukan ketelatenan luar biasa untuk pembuatannya:
- Kue Delapan Jam, sesuai namanya, kue ini dikukus selama 8 jam tanpa henti agar mendapatkan tekstur kenyal dan warna cokelat yang alami.
- Kue Padamaran, kue berbahan tepung beras dan santan dengan sirup gula merah di dalamnya, dikemas dalam daun pisang yang disebut takir.
4. Tradisi "Nalari" dan Ziarah Kubur Kolektif
Silaturahmi di Jambi sering disebut dengan istilah Nalari atau bertamu. Uniknya, di banyak wilayah yang ada di pedesaan Jambi, ada tradisi bertamu secara berkelompok. Warga satu RT maupun satu kampung akan berjalan bersama-sama mengunjungi rumah tetangga satu per satu.
Sebelum ritual bertamu dimulai, biasanya dilakukan adalah Ziarah Kubur Kolektif. Selepas salat Id, masyarakat tidak langsung pulang, melainkan berkumpul di pemakaman umum untuk membaca Yasin dan doa bersama. Hal ini mencerminkan bahwa adanya Lebaran bukan hanya sekedar mengenai mereka yang masih ada, tetapi juga bentuk penghormatan dan pengiriman doa bagi para leluhur yang telah mendahului.
5. Kemeriahan di Atas Air (Festival Ketek)
Bagi masyarakat yang tinggal di bantaran Sungai Batanghari, air menjadi urat nadi kehidupan. Saat Lebaran, sungai terpanjang di Sumatra ini menjadi pusat rekreasi. Tradisi naik Perahu Ketek (perahu motor tradisional) menjadi agenda wajib keluarga.
Masyarakat akan menyewa ketek untuk menyeberangi sungai, mengunjungi Jembatan Gentala Arasy, atau sekadar menikmati suasana di angin sore. Di beberapa kabupaten seperti Sarolangun atau Merangin, sering diadakan lomba pacu perahu yang menyedot ribuan penonton. Hal ini, menjadikannya puncak perayaan Idul Fitri yang sangat meriah.
Baca juga: 5 Tradisi Unik Idulfitri di Riau, Dari Lampu Colok hingga Lebaran Enam
Tradisi-tradisi di atas telah membuktikan bahwa masyarakat Jambi sangat menghargai akar budayanya. Idul Fitri bukan sekadar hanya ritual keagamaan, melainkan juga momentum untuk memperkuat tali persaudaraan melalui adat yang telah diwariskan oleh para pendahulu. Menjaga tradisi ini, agar tetap hidup berarti menjaga wajah Jambi yang ramah, religius, dan penuh kehangatan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber